Setiap tanggal 14 Februari, sebagian besar dunia sibuk merayakan Valentine. Tapi di balik cokelat dan bunga mawar, ada sejarah berdarah yang jauh lebih bermakna bagi bangsa Indonesia — pemberontakan tentara PETA di Blitar pada 14 Februari 1945.
Peristiwa ini bukan sekadar catatan kaki di buku sejarah. Ini adalah momen ketika para pemuda bersenjata mempertaruhkan nyawa demi harga diri bangsa, menolak tunduk pada penindasan Jepang.
Tahun 2026 menandai 81 tahun sejak pemberontakan itu meletus. Di tengah derasnya arus kehidupan modern, mengenang kembali apa yang terjadi di Blitar malam itu adalah bentuk merawat ingatan kolektif yang mulai pudar.
Mengenal PETA: Tentara Bentukan Jepang yang Berbalik Arah
PETA adalah singkatan dari Tentara Sukarela Pembela Tanah Air, atau dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Kyodo Boei Giyugun.
Kesatuan militer ini dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang pada 3 Oktober 1943. Tujuan awalnya? Membantu tentara Kekaisaran Jepang menahan potensi serangan sekutu di wilayah Indonesia.
Nah, yang terjadi justru sebaliknya. PETA menjadi “senjata makan tuan” bagi Jepang.
Pelatihan militer ketat yang diberikan Jepang ternyata melahirkan perwira-perwira muda yang tangguh, disiplin, dan berjiwa nasionalis tinggi. Pasukan inilah yang kelak menjadi tulang punggung pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) — cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Apa yang Memicu Pemberontakan PETA di Blitar?
Pemberontakan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Aksi heroik di Blitar ini dipicu oleh akumulasi kemarahan dan ketidakadilan yang disaksikan langsung oleh para prajurit PETA.
Beberapa faktor krusial yang menjadi pemantik perlawanan antara lain:
- Penderitaan Romusha — Prajurit PETA menyaksikan sendiri bagaimana rakyat dipaksa menjadi tenaga kerja paksa (Romusha). Kondisinya tidak manusiawi: kelaparan, kelelahan, dan banyak yang meninggal tanpa dikuburkan layak.
- Kewajiban setor padi — Kebijakan Jepang memaksa petani menyerahkan sebagian besar hasil panen, menyebabkan kelaparan massal di kalangan rakyat pedesaan.
- Arogansi militer Jepang — Pelatih dan perwira Jepang kerap merendahkan harga diri prajurit Indonesia, menumbuhkan kebencian mendalam di asrama-asrama PETA.
Di Daidan (Batalyon) Blitar, kegelisahan ini dirasakan sangat kuat oleh Shodancho (Komandan Peleton) Supriyadi.
Rasa iba terhadap penderitaan “wong cilik” dan kesadaran bahwa janji kemerdekaan dari Jepang hanyalah ilusi — itulah yang mendorong Supriyadi bersama rekan-rekannya merencanakan aksi nekat.
Kronologi Pemberontakan PETA 14 Februari 1945
Peristiwa heroik ini meletus pada dini hari, tepatnya pukul 03.00 WIB, tanggal 14 Februari 1945. Pemilihan waktu bukan tanpa perhitungan — kewaspadaan tentara Jepang biasanya menurun di jam-jam tersebut, dan bertepatan dengan adanya pertemuan para komandan Jepang di Blitar.
Berikut ringkasan kronologi peristiwa:
- Tembakan mortar pertama — Pemberontakan ditandai dengan dentuman mortar yang ditembakkan ke arah Hotel Sakura, tempat para perwira Jepang menginap.
- Penyebaran pasukan — Pasukan di bawah pimpinan Supriyadi bergerak keluar dari asrama dan mencoba menguasai titik-titik strategis di Kota Blitar. Harapannya, aksi ini memicu pemberontakan serentak di daidan-daidan lain di seluruh Jawa.
- Reaksi Jepang — Jepang dengan cepat melakukan konsolidasi. Pasukan bantuan didatangkan dan Kota Blitar dikepung. Jalur komunikasi diputus untuk mencegah pemberontakan meluas.
- Tipu muslihat — Menyadari kekuatan PETA Blitar sulit ditaklukkan secara frontal, Jepang menggunakan taktik licik: menyerukan perundingan dan menjamin keselamatan para pemberontak jika mau menyerah.
- Akhir perlawanan — Sebagian pasukan yang dipimpin oleh Shodancho Muradi akhirnya menyerah setelah terdesak dan termakan janji manis Jepang.
Lalu bagaimana nasib Supriyadi? Hingga hari ini, jawabannya tetap menjadi misteri. Ia dinyatakan hilang (missing in action) dan tidak pernah ditemukan — baik hidup maupun mati.
Dampak dan Makna Pemberontakan PETA bagi Indonesia
Secara militer, pemberontakan ini memang berhasil dipadamkan dalam waktu singkat. Tapi dampak psikologis dan politisnya? Luar biasa besar.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa mitos “Jepang Saudara Tua yang Tak Terkalahkan” telah runtuh.
Beberapa dampak signifikan dari pemberontakan PETA meliputi:
- Inspirasi keberanian — Aksi Supriyadi membakar semangat para pemuda di daerah lain. Ini adalah “api pertama” yang menunjukkan bahwa kemerdekaan harus direbut dengan kekuatan sendiri, bukan menunggu hadiah.
- Pembersihan jiwa budak — Pemberontakan ini menghapus mentalitas inlander yang patuh. Para pemuda PETA membuktikan keberanian menodongkan senjata ke arah pelatih mereka sendiri demi membela rakyat.
- Pondasi TNI — Semangat patriotisme PETA Blitar menjadi roh bagi doktrin TNI. Nilai-nilai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit banyak mewarisi semangat kerelaan berkorban dari peristiwa ini.
Bagi generasi 2026, maknanya tetap sangat relevan. Jika 81 tahun lalu pemuda berani mati melawan penjajah bersenjata, tantangan pemuda masa kini adalah melawan kemalasan, kebodohan, dan arus informasi negatif yang memecah belah bangsa.
Apakah 14 Februari Termasuk Hari Libur Nasional?
Pertanyaan ini sering muncul setiap tahun. Apakah tanggal 14 Februari diliburkan karena peringatan Hari Pemberontakan PETA?
Jawabannya: tidak. Hari Pemberontakan PETA bukan hari libur nasional (tanggal merah), melainkan hari besar nasional atau hari bersejarah yang diperingati secara khidmat.
Kegiatan peringatan biasanya dilakukan melalui upacara bendera di instansi pemerintah, sekolah-sekolah, dan markas militer.
Khusus di Kota Blitar, pemerintah daerah setempat bahkan menetapkan tanggal 14 Februari sebagai “Hari Cinta Tanah Air”. Peringatan di sana biasanya dimeriahkan dengan drama kolosal yang merekonstruksi perjuangan Supriyadi, napak tilas rute gerilya, dan ziarah ke Taman Makam Pahlawan.
Jadi, alih-alih identik dengan Valentine, Blitar justru memaknai 14 Februari dengan narasi cinta yang lebih substansial — cinta pada negeri.
Penutup
Pemberontakan Supriyadi dan rekan-rekannya mungkin gagal secara taktis pada 1945, namun berhasil menanamkan benih keberanian yang berbuah Proklamasi 17 Agustus 1945. Tugas generasi hari ini bukanlah mengangkat senjata, melainkan merawat kemerdekaan yang telah dibayar dengan darah dan air mata.